Minggu, 16 Oktober 2011

HUBUNGAN FILSAFAT ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI


HUBUNGAN FILSAFAT ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI
Disusun oleh:Ichwan P.Syamsuddin


Ada beberapa hubungan nyata filsfat Islam dengan filsafat yunani yaitu;
1.    filsafat Islam dimulai dengan bahan-bahan dari yunani kemudian dimasak dengan pokok-pokok pelajaran Islam, pendapat yang mengatakan bahwa fislafat Islam merupakan kelanjutan dari filsafat Yunani adalah pendapat yang keliru sama sekali. Filsafat Yunani merupakan hasil revolusi fikiran terhadap apa yag dinamakan dogmatic dicta, sedangkan filsafat Islam dilahirkan untuk memperkuat kedudukan faham Islam. Islam didirikan atas dasar qur’an dan al hadist.,perkembangan filsafat dalam Islam akan tetap berjalan bahu membahu dengan agama Islam. Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa: ”Agama ialah Akal”, maka tiap-tiap agama yang tidak bersendikan akal atau sesuatu agama yang berkembang membatasi akal, maka agama yang demikian tidaklah dapat hidup kekal. Setelah Al-qur’an telah sempurna diterima oleh Nabi Muhammad SAW dan pada masa pemerintahan Khalifah Utsman dibukukan  dengan lebih teratur dan sistematis, maka nampaklah bahwa ayat-ayat al-qur’an sebagai sumber  ajaran Islam membutuhkan tinjauan pikiran untuk mengungkap kebenaran yang hakiki. Pada saat ini mulailah orang Islam kontak dengan filsafat Yunani.
2.    Sebelum Islam lahir, di seluruh Asia Tengah termasuk negeri Arab telah tumbuh berkembng berbagai alam fikiran dan aliran filsafat, misalnya fikiran mesir kuno, Babilonia,Assuria,Iran,India,Cina,dan pikiran Yunani. Di Yunani kegiatan filsafat dimaksudkan untuk melepaskan (baca :mengoreksi, meguji) diri dari kekuasaan golongan agama berhala yang ajaran –ajaran agamanya bersendikan atas dasar tahayul dan mythologi. Sehingga ajaran yang dapat dibenarkan oleh akal fikiran disebut filsafat, dan ajaran yang tidak dapat diterima oleh akal fikiran dimasukan dalam ”ceritera-ceritera”. Pada tataran inilah pembuktiannya bahwa antara kebenaran yang didapat oleh filsafat dan kebenaran yang didapat oleh agama itu tidak ada perbedaan , artinya, bahwa filsafat memperoleh kebenaran dengan perjalanan fikiran,  sedangkan agama mendapatkan secara dogmatic. Sehingga atas dasar inilah Ibnu Rusyd mengatakan bahwa :”tidak dapat memisahkan antara agama dan filsafat keduanya menjadi satu”. Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengaruh filsafat Yunani / atau jalan pikiran Yunani diambil/dipelajari oleh para filosof islam adalah dalam rangka mengokohkan kedudukan ajaran Islam, sedangkan filsafat Yunani muncul dari bangsa Yunani adalah merupakan rekasi korektif terhadap kehidupan masyarakat yang penuh dengan ajaran tahayul dan mytologis.  Pada tataran ini Drs.Abu Ahmadi berpendapat bahwa :Perpindahan dan Pertukaran suatu pikiran bukan selalu dikatakan utang budi. Suatu persoalan dan hasilnya dapat mempunyai bermacam-macam corak. Seorang dapat mengemukakan persoalan yang pernah dikemukakan oleh orang lain sambil mengemukakan teorinya sendiri. Spinoza, misalnya, meskipun banyak mengutip Descartes, ia mempunyai mahzab sendiri. Ibnu Sina, meskipun menjadi murid setia Aristoteles, ia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Para filsuf Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filsuf-filsuf lain. Sehingga pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.”
3.    Dalam rekaman sejarah, cara terjadinya kontak antara umat Islam dan filsafat Yunani (juga sains) melalui daerah Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. Filsafat Yunani datang ke daerah-daerah ini ketika penaklukan Alexander Yang Agung ke Timur pada abad Yunani dan Persia dalam satu negara dengan cara berikut:
  • Ia angkat pembesar dan pembantunya dari orang Yunani dan Persia
  • Ia mendorong perkawinan campuran antara Yunani dan Persia. Bahkan ia pernah menyelnggarakan perkawinan massal 24 jenderal dan 10.000 prajuritnya dengan wanita-wanita Persia di Susa.
  • Sementara itu, ia sendiri kawin dengan satira, putri Darius, Raja Persia yang kalah perang
  • Ia mendirikan kota-kota dan pemukiman-pemukiman yang dihuni bersama oleh orang-orang Yunani dan Persia.
Dengan demikian, bercampurlah kebudayaan Yunani dan kebudayaan Persia. Sebagai bukti dalam hal ini kota Alexanderia di Mesir, yang dalam bahasa Arab disebut al –Iskandaria, merupakan warisan dari usaha di atas.
Pada sisi lain, seperti yang diungkapkan sejarah, telah terjadi pelenyapan semua akademi filsafat Yunani dan pengusiran para filsofnya oleh Kaisar Justinianus dari Bizantium pada tahun 529 M. Menurut kaisar ini ajaran filsafat bertentangan dengan agana Masehi. Pada kantong-kantong pusat kebudayaan diatas, pemikiran filsafat Yunani ditemukan ahli-ahli pikir Islam. Akan tetapi, pada zaman Khlifah Rasyidin dan umaiyah pengaruh filsafat Yunani belum begitu kelihatan karena pada masa ini selain masa penaklukan daerah sekitarnya, kegiatan juga lebih banyak mengacu pada kebudayaan Arab.
Sebenarnya penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab sudah dimulai sejak pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Kegiatan ini disponsori Khalifah Khalid Ibnu Yazid. Ketika itu buku-buku ilmiah yang diterjemahkan erat kaitannya dengan keperluan hidup praktis, seperti buku ilmu kimia dan kedokteran. Akan tetapi, kegiatan penerjemahan dalam arti yang sesungguhnya seperti yang dideskripsikan di atas, dimulai pada masa Khalifah Bani Abbas yang kedua, Al-Mansyur. Ia termasuk salah seorang khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Kecintaan ini agaknya pengaruh dari keluarga Al-Barmaki yang cinta akan ilmu dan filsafat. Telah dijelaskan bahwa keluarga Al-Barmakki mempunyai peranan yang besar dalam hal ini. Bahkan, anak Al-Barmaki, Khalid ibnu Barmak yang telah masuk Islam, diangkat oleh Al-Mansur, Khalid ibnu Barmak yang telah masuk Islam, diangkat oleh Al-MAnsyur menjadi Gubernur Faris.
Kegiatan penerjemahan mencapai zaman keemasannya pada masa Al-Makmun. Ia juga termasuk seorang intelektual yang sangat menggandrungi ilmu pegetahuan dan filsafat. Ialah yang mendirikan akademi Bait Al-Hikmah yang dipimpin oleh Hunain Ibnu Ishaq, seorang Nasrani yang ahli bahasa Yunani dan dibantu oleh anaknya Ishaq ibnu Hunain, Sabit ibnu Qurra, Qusta ibnu Luqas, Hudaibah ibnu Al-Hasni, Abu Bishr Matta ibnu Yunus, Al-Kindi dan lainnya. Akademi ini tidak hanya sebagai tempat penerjemahan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan filsafat dan sains.
Sebagaimana kota Baghdad, kota Marwa juga melakukan kegiatan penerjemahan. Namun masing-masing mempunyai kecenderunagn yang berbeda. Kota Jundisyapur lebih cenderung pada obat-obatan dan kedokteran. Sementara itu, kota Harran lebih meminati buku-buku filsafat dan kedokteran
Dalam era penerjemahan ini bermacam-macam buku filsafat dalam pelbagai bidang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, baik dari bahasa Siryani, Persia, maupun yang berbahasa Yunani sendiri.di antaranya karya Plato, seperti Thaetitus, Cratylus, Parmenides, Tunaeus dan lainnya karya Neo Platonisme, seperti Enneads, Theologia dan lain sebagainya.
Telah dipaparkan, dengan adanya era penerjemahan ini umat Islam telah mampu menguasai intlektual dari tiga kebudayaan yang sudah tinggi, ketika itu, yakni Yunani,Persia, dan India. Para intelektual Islam tidak hanya mampu menguasai filsafat dan sains, tetapi mereka juga mapu mengembangkan dan menambahkan hasil observasi mereka ke dalam bahsa sains dan hasil pemikiran mereka dalam lapangan filsafat.
DAFTAR BACAAN:
  1. Drs. H.Abu Ahmadi, Filsafat islam., Toha putra ., semarang, 192
  2. DR.Musa Asy’arie., filsafat Islam sunah Nabi dalam berpikir., LESFI, yogyakarta, 1999.
  3. DR.Oemar Amin Hoesin., Kultrur Islam, Bulan Bintang, jakarta,1975.
  4. John L Esposito ,Ensiklpdia Oxford ,Dunia Islam Modern. Bandung, Mizan, 2001. jilid I.Hal 111


1 komentar: